Jumat, 24 April 2015

Banua Selatan (1)

0 comments
Udah lama rasanya aku nggak nulis di blog ini... Bagaimana kabar sohib WaL-ley? hahahaha...

Hari ini, tepat dua belas hari aku menginjakkan kaki di tanah Kalimantan. Kalimantan yang terkenal dengan hutan-hutan yang hijau, sungai-sungai yang lebar, simpanze, orang utan, batu akik (?), dan sebagainya dan sebagainya itu, nggak semuanya bener loh... (atau mungkin karena aku berada di kota Banjar Baru, sebuah kota lain di sebelah tenggara dengan beberapa derajat ke utara, tempat Bandara Syamsudin Noor berada)

Hasil pengamatanku selama ini, pemandangan yang bener cuma satu hal... Banyak cewek yang manis-manis, putih-putih, bohay, dan sebagainya dan sebagainya... hehehe *mupeng *digampar
Beneran! Sumpeh deh sampe tumpeh-tumpeh... meskipun mereka berjilbab, ah, pandangan mata semakin susah untuk kedip... pan kalo udah kedip kan nggak boleh lihat lagi... harus lihat yang lain lagi... mwehehehe... *digampar lagi pake sendal
Sayangnya, tak sedikit pula cewek-cewek yang "caper" gitu lah... rambut di-rebonding, digerai ke belakang dengan beberapa helai dibelah di depan pundak, berkaos mantap dengan tonjolan-tonjolan yang membulat padat... aku langsung mikir, itu pake busa yang berapa senti yah? hahahaha.... *dilempar bantal ama guling

Ah, udah lah, mbahas cewek... kayaknya sejak di Jakarta pun banyak yang gitu juga... apalagi di kota kelahiranku, Solo, banyak juga sih yang udah mulai coba-coba pake pakaian yang begitu... padahal kan nggak boleh coba-coba gitu... masak buat anak kok coba-coba... /*melet

Sekarang dari cewek, kita mbahas soal jalanan yang ada di Banjar Baru. Jujur aku baru beberapa persen doang menjelajahi jalanan di Banjar Baru, tapi jalanan udah lumayan lah... mulus, brooooh... kayak paha cewek lo... padahal aku belum pernah tau paha cewek orang... *dilempar buntelan baju
beneran, lebih bagus ketimbang jalan di Pantura Jawa... saking bagusnya, bro, kalo ada cewek naik kendaraan apapun, nggak bakalan boing dah... yah, kecuali di beberapa tempat di daerah agak perkampungan... mwehehehe...

Nah, nah... itu baru gambaran awal tentang Kalimantan Selatan khususnya (0,5%?) Banjar Baru... Semoga aku bisa menceritakan lebih lanjut tentang Banjar Baru dan Kalimantan Selatan di lain kesempatan... Sekarang aku mau mengembara dulu... *berbalik dan melenggang membawa buntelan baju, bantal dan guling

Picts of Night at Simpang Empat, Banjar Baru
Read More... »

Senin, 24 Januari 2011

Cerita Renungan Anda (Copas dr akun fb salah satu sahabat saya)

0 comments
 Source: delraycra.org

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai.

Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :

“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :

“Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA


Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :

“Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM


Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku

“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH


Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :

“Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”

(Sumber : Unknown)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14)
Read More... »

Sabtu, 22 Januari 2011

AKU BUKAN SIAPA – SIAPA

1 comments
Aku...
Bukanlah seorang konglomerat
Yang berdasi sutera berdompet kartu
Yang bermobil lima berhektar tanahnya
Untuk serahkan dunia untukmu...
Aku...
Bukanlah seorang pujangga
Yang selalu hamburkan frasa
Yang untaikan kata merdu nan syahdu
Untuk selalu bisikkan cinta di kupingmu...
Aku...
Bukanlah seorang pendeta
Yang khusuk dalam doanya
Yang bertangan untaian mantra
Untuk bisa memikatmu dengan jampiku...
Aku...
Bukanlah seorang pendekar
Yang bertubuh kekar nan tangkas
Yang hancurkan tembok nan kokoh
Untuk bisa menarik hatimu yang beku...
Aku...
Bukanlah seorang yang mudah kau mengerti
Bukanlah seorang yang mudah kau susuri
Aku adalah aku
Aku tak kan menjadi orang lain untuk dapatkanmu
Aku...
Aku miliki jalan yang kubangun sendiri
Jalan yang telah digaris dan dibimbing olehNya
Jalan yang pagarnya hanya Dia dan aku yang tahu

Aku...
Tak dapat marah atas segala masa lalumu
Aku tahu siapalah diriku
Aku bukanlah siapa-siapamu
Yang dapat larangmu lakukan apa inginmu
Aku...
Hanya dapat sesali hidupku
Hanya satu yang aku sesali seumur hidupku
Mengapa aku bisa merasa ungu atas cinta yang kupilih
Hingga kini aku masih ragu atasmu
Mampukah dirimu menantiku
Tuk bisa jadi konglomerat, pujangga, pendeta dan pendekar
Sehingga kumampu tenangkan hidupmu
Aku rela...
Jika kau memilih pergi dengan pilihanmu
Karena aku yakin di alam fana ini
Kau bukan satu-satunya Hawa
Dan diantara Hawa pasti ada
Bagian diriku yang hilang...

Source: http://img.wallbeam.com/229processed/teddy%20bear%20sitting%20alone%20on%20road.jpg
Read More... »
 

- Copyright © 2015 Word and Life - | - Designed by George Robinson on BTDesigner - | - Proudly powered by Blogger -