Senin, 24 Januari 2011

Cerita Renungan Anda (Copas dr akun fb salah satu sahabat saya)

0 comments
 Source: delraycra.org

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :
“Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai.

Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :

“Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata :

“Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA


Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata :

“Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM


Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku

“Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH


Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :

“Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.


Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”

(Sumber : Unknown)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (QS. Luqman : 14)
Read More... »

Rabu, 19 Januari 2011

What a Lively the Living Love

1 comments
PUSING. Aku baru hidup di dunia ini selama kurang lebih (emmmmt....) delapan belas tahun lebih dua bulan. Akan tetapi, cobaan Allah padaku, yang mungkin dipersiapkanNya buatku saat dewasa kelak, sudah semakin kompleks... Kuliah, part-time job, organisasi, cinta, harapan orang tua, life planningku sendiri, ngatur keuangan, dll, sepertinya sudah mulai membuatku gila...

Sebenarnya life plan-ku sudah kurancang semenjak masih duduk di bangku smp, tp entah mengapa jalan yang aku susuri makin terjal, dan makin banyak batu yang berjatuhan... Peluh, eluh, dan darah telah mengalir perlahan di sekujur tubuhku...

banyak hal telah kulewati selama perjalanan hidupku... dan semuanya selalu ada dalam patok yang telah kupagari,, tapi ada hal yang selalu keluar batas, C.I.N.T.A. (D'Bagindaz mode:on)...

Aku pernah mendengar seseorang berkata bahwa jika kau memegang erat cinta, dia akan balik mencekik lehermu hingga tewas, namun jika kau tak memegang cinta dengan kuat, dia akan cepat lepas dari genggamanmu... Aku belum banyak pengalaman tentang cinta... dan gadis itu muncul...

Wajah indah itu muncul tepat saat aku tengah terluka karena cinta... Senyum itu merasuk hatiku saat hatiku tengah hancur... Namun dia pula telah dimiliki cahaya hatinya, aku makin hancur...

Akan tetapi, dirinya menghembuskan angin harapan yang sejuk dalam hatiku, membangun kembali serpihan - serpihan dan lumatan - lumatan hati yang remuk redam, dan aku makin merasa melihat cahaya di ujung lorong gua hatiku yang gelap dan senyap, saat bunga itu lepas dari kumbangnya....

Entah kenapa, saat kutulis kata - kata ini, aku merasa bahwa aku lebih sakit hati saat menyadari dia masih memiliki rasa pada kumbangnya... Apakah ini yang dinamakan cinta? Apakah cinta selamanya tak boleh memiliki?

Aku tak akan berburuk sangka padaNya... Aku percaya Dia sayang padaku, sehingga memberikanku jalan ini, yang aku kadang merasa berat sebagai manusia... Namun aku yakin inilah yang terbaik buatku... Ya ALLAH, jadikanlah aku mampu meneladani AsmaMu yang disematkan oleh orang tuaku dalam namaku... Jadikanlah aku menjadi seorang yang penyayang dan bijaksana dalam mengambil jalan yang telah Engkau berikan... Meski di dunia tak ada yang saling bertegur sapa lagi, aku yakin Engkau, ibuku, bapakku dan "bagian diriku yang hilang" selalu menyayangiku, mengasihiku, meluruskanku, mengarahkanku, dan mengingatkanku saat gelap seperti layaknya saat ini... Maafkan aku........


Source: http://api.ning.com/files/kV4MbYiv7oTqQ*oUWoGBPq5*1EhcM8YCSkcMNCkNynez2WwCrl0OaQeMBxRoUAh8rLjzx85KCiNfKDsdq9C4E82BfqBEesro/1082066315.jpeg

Read More... »
 

- Copyright © 2015 Word and Life - | - Designed by George Robinson on BTDesigner - | - Proudly powered by Blogger -